Intended vs Emergent Strategy

Ada tiga persoalan yang dihadapi organisasi dewasa ini, yaitu:

1. Alignment gap, yaitu ketidaksesuaian antara apa yang direncanakan dan apa yang dilaksanakan
2. Effect gap, yaitu ketidaksesuaian antara apa yang dilaksanakan dan akibat yang diharapkan, dan
3. Knowledge gap, yaitu ketidaksesuaian antara akibat yang diharapkan dan apa yang direncanakan terjadi (Bungay: 2011).

Suatu ungkapan yang menarik dikatakan oleh Bungay bahwa apa yang menjadi kesepakatan di dalam ruang rapat dan telah dicatat dalam notulen rapat, namun tidak juga menjadi suatu hal yang dilaksanakan dengan baik di lapangan (common understanding doesn’t become common practice). Bahkan pada rapat berikutnya organisasi sering mengulang membahas kembali masalah yang sama dan terus-menerus seperti itu dan tidak ada kemajuan yang berarti.


Banyak organisasi dewasa ini menyadari bahwa mereka perlu melakukan sesuatu lebih dari sekedar menjalankan tugas dan menghasilkan output pekerjaan. Namun mereka perlu memberikan dampak (outcome) kepada stakeholder. Pemahaman ini memberikan indikasi bahwa organisasi perlu merancang kegiatannya bukan hanya untuk mendatangkan hasil secara langsung, namun perlu memetakan akibat tidak langsung yang ingin dicapai sebagai bentuk akibat dari proses dan hasil kerja tersebut. Namun banyak organisasi tidak mampu melakukan hal ini dan hanya melakukan kegiatan organisasi berulang dari tahun ke tahun. Hal ini menjelaskan bahwa organisasi seperti ini adalah organisasi yang memiliki persoalan sebab akibat dalam operasionalnya (effect gap).


Selanjutnya Bungay menjelaskan bagaimana kesulitan organisasi dewasa ini memprediksi dan membuat asumsi terhadap hal-hal yang akan terjadi pada masa lima tahun yang akan datang. Parameter seperti indikator makro ekomomi sering kali meleset sejalan dengan efek globalisasi yang membuat keterkaitan dan saling tergantung antar negara sedemikian tinggi. Sehingga apa yang terjadi di negara lain dapat berimbas kepada negara di mana organisasi beroperasi dan akhirnya berakibat kepada perubahan pada situasi eksternal organisasi.



Sumber: Stephen Bungay, The Art of Execution. London: Nicholas Brealey Publishing, 2011

Beberapa artikel tentang bahwa strategi sudah mati (The dead of Strategy) pernah ditulis dan ramai didiskusikan. Sama seperti semua banyak hipotesis, ada yang mendukung ada juga yang menentang. Untuk memahami lebih jauh apakah benar strategi tidak diperlukan lagi oleh organisasi dewasa ini, maka kita perlu melihat dengan jernih apa hakikat strategi (ontologi), bagaimana cara kerja startegi (epistimologi), apa manfaat dari strategi (aksiologi). Menurut Michael Porter strategi adalah sekumpulan aktivitas yang dipilih oleh suatu organisasi dalam rangka menghasilkan nilai-nilai yang spesifik serta berbeda atau lebih baik dibandingkan dengan pesaing (It is a deliberate process of choosing a set of activities differently from competitors, in order to deliver a unique mix of value) (Porter:1998). Porter berpendapat bahwa strategi adalah cara untuk memberikan nilai tambah (unix mix of values) kepada pelanggan. Ada dua hal pokok yang bisa kita tangkap dari definisi strategi yang dikemukan oleh Porter, yaitu pertama bahwa strategi adalah sebuah pilihan dari berbagai alternatif yang bisa dipilih dan yang kedua adalah bahwa strategi merupakan sarana (cara) untuk memberikan nilai tambah. Strategi diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah kepada pelanggan yang merupakan kunci dalam menjaga eksistensi organisasi dalam jangka panjang.

Secara garis besar dapat kita katakan bahwa memformulasikan strategi adalah kegiatan mengharmonisasikan peluang yang ada di pasar (faktor eksternal) dengan kemampuan organisasi yang ada (internal faktor). Tidak ada strategi yang benar atau strategi yang salah. Yang ada adalah apakah strategi yang diformulasikan tepat atau tidak tepat. Strategi yang tepat adalah strategi yang mampu menyelaraskan antara kekuatan organisasi dan peluang yang ada, sehingga mendatangkan manfaat yang maksimal dengan menggunakan pengorbanan yang minimal bagi organisasi.



Sumber: Membangun Organisasi Unggul, Martinus Tukiran, 2016.

Strategi merupakan pilihan cara yang dipilih oleh pimpinan puncak organisasi yang bersifat jangka panjang, menyeluruh, dan prioritas. Berdasarkan karakteriktik ini, maka perencanaan strategis organisasi yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis organisasi akan memiliki jangkauan waktu panjang ke depan (3-5 tahun). Pada saat rencana strategis itu dibuat untuk mencapai sasaran strategis tiga sampai lima tahun yang akan datang, maka proyeksi yang digunakan adalah berdasarkan asumsi. Semakin akurat asumsi yang digunakan akan mencerminkan kualitas dari perencanaan startegis yang dibuat. Konteks merencanakan startegi untuk jangka waktu yang cukup panjang ke depan merupakan konsep intended strategy, yaitu penentuan strategi berdasarkan pada analisis dinamika kompetitif dan kapabilitas saat ini.


Namun sejalan dengan waktu, pada saat startegi tersebut dieksekusi, maka diperlukan penyesuaian dan pemuktahiran data dan asumsi yang digunakan sesuai dengan dinamika eksternal dan internal organisasi yang terjadi. Melakukan pemuktahiran dan penyesuaian strategi sepanjang startegi tersebut sedang dieksekusi kita kenal dengan konsep emergent strategy. Dengan demikian kita pahami bahwa startegi bukanlah suatu obyek yang kaku, statis, dan kekal yang berada dalam ruang hampa. Strategi merupakan obyek yang dinamis bagian dari kegiatan manajemen yang perlu dilakukan pemuktahiran dan penyesuaian untuk tetap mendatangkan hasil yang optimal dari fungsi strategi itu sendiri, yaitu memberikan arah yang jelas dan tepat tentang cara yang perlu dilakukan organisasi melaksanakan kegiatan pencipataan nilai tambahnya. Konsep pemuktahiran dan penyesuaian yang mendatangkan hasil yang optimal dari strategi ini kita kenal dengan realized strategy.







Sumber : A Model of Intended, Deliberate, and Realized Strategy, Mintzberg, H., & Waters, J. A

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa strategi merupakan cara yang dipilih oleh pimpinan puncak organisasi memberikan arah dan cara yang jelas apa yang harus dilakukan oleh organisasi dalam rangka menciptakan nilai tambah dalam jangka waktu yang panjang ke depan berdasarkan asumsi yang ada pada saat strategi dibuat. Validitas dari substansi intended strategy ini adalah contruct validity yang didarkan kepada asumsi, proyeksi, pengalaman, dan entreprenership dari pimpinan puncak organsiasi. Sejalan dengan eksekusi strategi, maka substansi startegi perlu dilakukan pemuktahiran dan penyesuaian untuk dapat menghasilkan strategi yang optimal (realized strategy) dengan cara melakukan perubahan strategi yang diperlukan sesuai dengan dinamika ekseternal dan internal organisasi dalam emergent strategy. Validitas dari emergent strategy ini adalah content validity.

Penulis : Dr. Martinus Tukiran

Cognoscenti Consulting Group sebagai perusahaan konsultansi bidang manajemen, memiliki banyak pengalaman dalam membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perbaikan proses kerja. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan yang lebih baik mulai dari penyusunan strategi hingga proses implementasi di tingkat operasional dan audit untuk menemukan perbaikan. Jika ada hal yang ingin anda diskusi dengan kami, silahkan jangan segan untuk menghubungi Cognoscenti Consulting Group. www.ccg.co.id / 021. 29022128

Newest
Previous
Next Post »